BEHIND THE SCENE



MADAMEX

JAKARTA, 17 Juni 2010 – Happy Ending Pictures mengadakan pemutaran "Behind The Scene" film "MADAMEX yang bertempat di Jl. Warung Buncit 98, Jakarta. Pada kesempatan tersebut hadir Nia Dinata sebagai Produser, Lucky Kuswandi selaku Sutradara, Jeffry Tan sebagai perancang desain.

Turut hadir dalam arara ini pendukung filme "MADAMEX" seperti: Amink as Adam / MADAME X, Mardell as Kanjeng Badai, Sarah Sechan sebagai Bunda Lilis, Ria Irawan as Tante Yantje, Ikhsan Himawan as Tarjo.

Sinopsis:
Ketika Ibukota di sebuah negeri antah berantah terancam oleh kemunculan KANJENG BADAI dan partai politiknya yang militan dan homophobia, keselamatan negeri ini bergantung pada ADAM, seorang penata rambut yang kemayu. Dengan kekuatan tas make-up dan peralatan dandan, juga perpaduan seksi antara seni bela diri dan gerak tari, Adam harus mengalahkan Kanjeng Badai dan istri-istrinya dengan gemulai sebelum Kanjeng Badai memenangkan pemilu. Akankah sepatu berhak tinggi-nya berubah menjadi pantofel, riasan glitter-nya menjadi debu, atau celana kulit-nya jadi celana kain? Ketika semua menjadi samar, hanya satu yang pasti: Adam harus memenuhi takdirnya sebagai seorang Super hero MADAME X, super hero pembela kaum minoritas.

FACTS:
Film Indonesia pertama yang menonjolkan super hero modern, mengkombinasi adegan action-nya dengan teknik computer graphic animation. Sebuah Film dengan penekanan pada kostum melibatkan kolaborasi antara fashion designer berbakat, Jeffry Tan yang mendesain kostum para tokoh antagonis, yang diperankan oleh: Marcell Siahaan, Titi Dj, Sarah Sechan dan Shanty.

Jugz lenny Agustin designer yang sering mengolah batik, dan kali ini merancang kostum para penari.

CAST:
- Amingk as Adam / MADAME X
- Marcell as Kanjeng Badai
- Titi Dj as Bunda Ratu
- Sarah Sechan as Bunda Lilis
- Shanty as Kinky Amalia
- Ria Irawan as Tante Yantje
- Robby Tumewu as Oom Rudi
- Fitri Tropica as Cun-cun
- Vincent Rompies as Din
- Joko Anwar as Aline
- Saira Jihan as Ratih
- Ikhsan Himawan as Tarjo

PRODUCER:
Nia Dinata
Selain menikmati profesinya sebagai sutradara Nia Dinata juga telah banyak memproduksi film-film bagi sutradara muda Indonesia seperti Joko Anwar, Dimas Djayadiningrat, dll. Ia juga bekerjasama dengan Lucky Kuswandi dalam memproduksi film documenter Pertaruhan (2008) yang menempatkan posisi film documenter Indonesia sejajar dengan karya documenter world cinema, dengan premiernya di Berlin International Film Festival.

Nia juga selalu mengangkat issue-issue social dan keberpihakan pada kaum minoritas dalam film-filmnya yang jujur dan mengkritisi kemapanan pada kaum minoritas dalam film-filmnya yang jujur dan mengkritisi kemapanan, dengan sentilan-sentilan komedinya.

SUTRADARA:
Lucky Kuswandi, lahir di Jakarta, 29 Agustus 1980. Penulis skenario dan sutradara ini merupakan lulusan dari the Art Center College of Design Los Angeles Amerika Serikat ini kembali ke Jakarta pada tahun 2005. Karya-karya film pendeknya menjadi koleksi tetap di the Asian Film Archive dan festival di dunia. Film MADAME x ini menjadi awal dari karya film panjang dari Lucky. Karya film pendeknya: SAMPAI BESOK (UNTIL THE MORNING COMES), NONA, NYONYA? (MISS, MRS?)-bagian dari antologi "Pertaruhan" Produksi Kalyana Shira, A LETTER OF UNPROTECTED MEMORIES - bagian dari omnibus "9808", dan STILL.

PENULIS:
Lucky menulis skenario bersama-sama dengan Agasyah Karim dan Khalid Kashogi yang pernah menulis skenario dan menyutradarai film "Gara-Gara Bola".

Catatan Produksi:
Genre: Komedi Super Hero
Durasi: 102 menit
Format: HDV Kinetransfer to 35mm
Tanggal Shooting: 17 Feb - 1 April 2010
Editing: April - Juni 2010
Tanggal Release: TBA
Producer: Nia Dinata
Director: Lucky Kuswandi
Writer: Agasyah Karim, Khalid Kashogi & Lucky Kuswandi
Costumes: Tania Soeprapto & Isabel Patrice
Dibantu Jeffrey Tan & Lenny Agustin
Make Up didukung oleh MAC cosmetics




DARAH GARUDA

PENCETAK BOX OFFICE TRILOGI "MERAH PUTIH" KEMBALI MENANG!
TRAILER SEKUEL "DARAH GARUDA" SERENTAK DI BIOSKOP JULI 2010

PRODUSER, SUTRADARA PUTAR PERDANA CUKILAN FILM EPIK PERANG TERBESAR DALAM SEJARAH BANGSA

Jakarta, 15 Juni 2010 - Dari Lounge Plaza Senayan XXI pada hari Selasa, Hashim Djojohadikusumo, produser eksekutif Trilogi Merdeka yang mendapat sambutan meriah, hari ini berbagi dengan wartawan tentang sukses fenomenal MERAH PUTIH, tiga film saga perang persembahan PT Media Desa Indonesia miliknya yang diproduser eksekutifnya Rob Allyn.

"MERAH PUTIH" adalah sensasi pembuat rekor box office yang ditonton jutaan penonton di bioskop, DVD dan sebentar lagi, televisi nasional," kata Hashim. "Kami tergetar dengan tanggapan terhadap cerita yang penting ini tentang pengorbanan para bapak bangsa dan nilai-nilai bangsa kita tentang persatuan, toleransi beragama dan kemerdekaan, baik bagi generasi muda bangsa kita maupun bagi dunia.

Diputar di berbagai festival film internasional dan pasar film termasuk Pusan, Berlin, Cannes, Moscow, Perth, Sydney, Hong Kong, Bangkok dan Amsterdam; saga perang ini telah terjual baik di bioskop, TV, DVD, Video Unduh, maskapai penerbangan, maskapai pelayaran, hotel mapun dalam bentuk hak cipta lainnya di lebih dari 10 negara termasuk Inggris, Jerman, Irlandia, Austria, Swiss dan Republik Ceko – membuat MERAH PUTIH sebagai salah satu film yang sukses di tingkat internasional dalam sejarah Indonesia. Di dalam negeri, film ini diganjar empat penghargaan utama dalam Bali International Film Festival 2009, memenangkan Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Yadi Sugandi), Aktris Terbaik (Rahayu Saraswati), dan Tempat Pertama Pilihan Penonton, selain juga masuk nominasi Aktor Terbaik (Donny Alamsyah) dalam Festival Film Bandung 2010.

Berangkat dari kesuksesan film pertama, para produser, sutradara dan pemain mengadakan konferensi pers untuk mempertontonkan cukilan dari film kedua trilogi ini, DARAH GARUDA. Trailer film kedua ini yang akan tayang serentak di bioskop pada Juli 2010, mengumumkan bahwa MERAH PUTIH II: DARAH GARUDA akan ‘membumbung tinggi’ di bioskop mulai 8 September untuk turut merayakan liburan Lebaran. Film ketiga, HATI MERDEKA, sudah selesai shooting dan siap dirilis pada liburan Natal/Tahun Baru, Desember 2010/Januari 2011.

DARAH GARUDA mengikuti sebuah kelompok heroik para kadet yang menjadi tentara gerilya pada tahun 1947 yang dipotret dengan brilian oleh aktor-aktor berbakat papan atas Indonesia (Donny Alamsyah, nominator Aktor Terbaik untuk film MERAH PUTIH pada Festival Film Bandung 2010, T. Rifnu Wikana, Lukman Sardi, dan Darius Sinathrya).

Terpecah oleh rahasia-rahasia mereka di masa lalu dan konflik yang tajam dalam hal kepribadian, kelas sosial dan agama, keempat lelaki muda bersatu untuk melancarkan sebuah serangan nekat terhadap kamp tawanan milik Belanda demi menyelamatkan para perempan yang mereka cintai, dimainkan oleh para aktris muda berbakat yang profesional (Rahayu Saraswati, peraih Aktris Terbaik pada Bali International Film Festival 2009 untuk film MERAH PUTIH; Astri Nurdin, dan Atiqah Hasiholan).

Para kadet ini terhubung dengan kantor pusat Jendral Sudirman dimana mereka diberi sebuah tugas sangat rahasia di belakang garis musuh di Jawa Barat: sebuah serangan gaya komando pada lapangan udara vital yang dapat membalikkan perlawanan para pemberontak melawan kezaliman yang telah dilakukan Jendral Van Mook pada Agustus 1947. Kelompok gerilya ini menembus dalam ke Jawa Barat, dimana mereka bertemu dengan kelompok lain dari separatis Islam, juga sekutu baru maupun yang potensial berkhianat: mata-mata kolonial dengan pangkatnya sendiri dan sekutu orang-orang sipil dari jalanan; dan musuh lama yang bertanggung jawab atas intelejen Belanda (dimainkan oleh Alex Komang sebagai Kyai, Ario Bayu sebagai gerilya tangguh Sersan Yanto, Atiqah Hasiholan sebagai wanita penghibur yang trauma Lastri, Rudy Wowor sebagai Mayor Belanda Van Gaartner dan memperkenalkan Aldy Zulfikar sebagai tentara anak Budi).

Dikepung oleh musuh yang mengelilingi, baik musuh dari luar maupun dari dalam, para pahlawan ini harus bersatu dan saling percaya karena mereka berjuang melawan intrik, perkelahian jarak dekat, pengkhianatan dan kekuasaan luar biasa sebuah maha kekaisaran Eropa, demi mengejar satu tujuan: Kemerdekaan.

Disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Conor Allyn, DARAH GARUDA memasangkan keahlian sinematik dari Penata Sinematografi terhandal di Indonesia, Yadi Sugandi (LASKAR PELANGI, UNDER THE TREE, THE PHOTOGRAPH) dengan kekuatan penyutradaraan dinamis dari bintang baru Conor Allyn, yang keahlian berceritanya sebagi penulis dan produser trilogi MERAH PUTIH memadukan drama dan laga dalam cara bertutur gaya gerak memancang. Bersama, Yadi Sugandi dan Conor Allyn berhasil menyutradarai sebuah saga peperangan yang hidup dengan alur cepat di darat, laut, dan udara, yang merupakan film epik terbesar dan paling profesional dalam sejarah bangsa, penuh dengan laga, ketegangan, kejutan dan kelokan, intrik, romansa, humor dan penampilan dramatis oleh para pemain yang mempesona dari bakat terbaik perfilman Asia Tenggara.

Dibesut dalam format 35-milimeter berdurasi 100 menit, DARAH GARUDA melibatkan ahli perfilman internasional terbaik dalam bidang efek khusus dan tata teknis lain yang berpengalaman di perfilman Hollywood. Sebagian, seperti Koordinator Efek Khusus Adam Howarth (SAVING PRIVATE RYAN, BLACKHAWK DOWN) dan Ahli Persenjataan John Bowring (THE MATRIX, THE THIN RED LINE, AUSTRALIA, WOLVERINE), adalah para veteran di film MERAH PUTIH. Dengan tim penyutradaraan baru Yadi Sugandi dan Conor Allyn, DARAH GARUDA dan film ketiga yang nanti akan muncul dari trilogi ini, HATI MERDEKA, membawa ahli-ahli lain seperti Nominator Piala Oscar untuk Tata Rias dan Prostetik Conor O’Sullivan (THE DARK KNIGHT, SAVING PRIVATE RYAN, BRAVEHEART), Koordinator Laga Scott McLean (THE MATRIX, THE PACIFIC-sekuel terbaru dari Steven Spielberg/Tom Hanks BAND OF BROTHERS), Asisten Sutradara Andy Howard (FROM HELL, WANTED, HELLBOY) dan Teknisi Ahli Efek Khusus Graham Riddell (ROBIN HOOD, BATMAN BEGINS, STAR WARS I, BAND OF BROTHERS, KINGDOM OF HEAVEN).

Disunting oleh penyunting gambar terbaik Indonesia Sastha Sunu dengan musik oleh komposer peraih penghargaan Thoersi Argeswara yang musiknya dimainkan oleh Beijing Philharmonic Orchestra, DARAH GARUDA menampilkan sebuah ensemble cast jajaran para bintang: Donny Alamsyah (FIKSI, 9 NAGA, GIE), Rahayu Saraswati (RED AND WHITE), T. Rifnu Wikana (KADO HARI JADI, LASKAR PELANGI), Lukman Sardi (QUICKIE EXPRESS, GIE), Astri Nurdin (RED AND WHITE), Darius Sinathrya (UNGU VIOLET, D’BIJIS, NAGA BONAR JADI 2), Atiqah Hasiholan (JAMILA DAN SANG PRESIDEN, RUMA MAIDA), Ario Bayu (LASKAR PELANGI, PINTU TERLARANG), Rudy Wowor (RED AND WHITE, QUICKIE EXPRESS), Alex Komang (LASKAR PELANGI, PACAR KETINGGALAN KERETA) dan memperkenalkan aktor cilik Aldy Zulfikar.

MERAH PUTIH disambut oleh VARIETY sebagai “penggambaran yang dibuat dengan baik tentang kelahiran Indonesia sebagai sebuah bangsa dimana penampilan pemain dan visualnya yang kuat mengesankan”. “Epik perang yang menghadirkan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya... mendebarkan hati... mencengangkan,” kata koran Jakarta Globe, “Donny Alamsyah konsisten dan brilian.” Kompas memberikan “Dua jempol... film yang sempurna untuk hari kemerdekaan... dengan begitu hidup disutradarai Yadi Sugandi, ditulis oleh Conor Allyn dan Rob Allyn, skenarionya terjalin dengan anggun dan dengan gamblang menampilkan drama dan intrik... elean”.

Koran Jakarta Post menyebutkan bahwa gambar-gambarnya “otentik secara sejarah dengan laga, drama, humor, romansa, tragedi manusia dan cerita personal yang kuat... menginspirasi generasi muda”. SCREEN DAILY menyebutnya sebagai “epic... film terbesar dalam sejarah Indonesia”. Di Cannes, The Hollywood Reporter menyatakan “MERAH PUTIH mengharu biru dalam memotret pemberontak Indonesia yang berjuang melawan penindasan Belanda... film ini telah memenangkan perhatian masyarakat di Indonesia dan Pasifik... Tipe film saga yang membangkitkan semangat raga yang membara, MERAH PUTIH mengalir seperti halnya film-film lama peperangan Amerika... MERAH PUTIH dengan bangga membentangkan scoring musik yang membangkitkan dan menginspirasi, garapan komposer Thoersi Argeswara”.

Jawa Pos menyebut MERAH PUTIH sebagai “Drama perang gaya Hollywood yang mengingatkan Indonesia tentang persatuan, pengorbanan dan nasionalisme para Bapak Bangsa”. Sementara SEPUTAR INDONESIA dengan sederhana mengatakan, “Perasaan kebanggaan dan cinta terhadap bangsa dibangunkan kembali setelah menonton film ini.”




TANAH AIR BETA

CREW:
Executive Producer: Nia Sihasale Zulkarnaen
Producer & Director: Ari Sihasale
Line Producer: Gunawan Rahardjo
Screenplay: Armantono
D.O.P: Ical Tanjung
Art Director: Tomy Dwi Setyanto
Music Director: Aksen Sjuman & Titi Sjuman
Editor: Andhy Pulung
Sound Designer: Dwi Budi Priyanto & Khikmawan Santosa

TALENT:
Alexandra Gottardo: Tatiana
Asrul Dahlan: Abu Bakar
Lukman Sardi: Lukman
Robby Tumewu : Ko Ipin
Thessa Kaunang : Ci Irene
Ari Sihasale : Dr. Joseph
Memperkenalkan :
Griffit Patricia : Merry
Yehuda Rumbindi: Carlo




MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK

Sejak awal Pic[K]Lock yang dimotori Oleh Dewi Umaya dan Noe Letto (keduanya sebagai produser) MPdVP mengorientasikan film ini agar dapat dicerna oleh khalayak luas dan terutama bagi mereka yang ingin manjadi pekerja di Hongkong khususnya, dan di negara-negara lain. Maka rancangan dalam film ini selalu mengetengahkan dimensi apa yang sebaiknya harus mereka persiapkan sebelum meninggalkan negeri kita, karena mereka akan menghadapi persoalan A sampai dengan Z di negera yang akan mereka tuju.

Disadari bahwa memilih media layar lebar yang salah satu targetnya MPdVP beredar di jalur distribusi mainstream sekaligus produksi MPdVP juga dapat menjadi media pendidikan bagi masyarakat memang tidak mudah, namun Pic[K]Lock berusaha untuk menjawab tantangan itu—sehingga MPdVP tidak hanya sekadar menjadi film salon, hanya dikenal oleh khalayak tertentu saja, namun sebaliknya dapat berfungsi, dan berdaya guna menjadi media yang mampu menelusup ke seluruh lapisan masyarakat mengabarkan tentang potensi dan problematika yang harus dipahami oleh khalayak luas. Karena bagaimanapun para TKW telah berperan besar bagi keluarga, lingkungan, maupun negara. Ada beberapa hal yang menarik dari tim peneliti Pic[K]Lock selama proses pre produksi film.

DATA yang diperoleh Pic[K]Lock
Tenaga Kerja Indonesia tersebar di 30 negara
menyumbang pemasukan bagi negara
total di tahun2009 US $ 6.615.718.900,56

Jumlah TKI yang bekerja di luar negeri sekitar 8.739.046
Jika masing-masing menanggung 5 orang anggota keluarga di kampung halamannya, maka Lebih dari 40 juta jiwa penduduk Indonesia mengantungkan nasibnya pada mereka. Setara dengan 5 kali penduduk Jakarta.

97,2% tenaga kerja Indonesia di Luar Negeri adalah perempuan,
jika separuhnya adalah ibu rumah tangga yang memiliki 2 orang anak,
Lebih dari 4,2 juta keluarga yang menggantungkan hidupnya pada anak perempuan ataupun istrinya yang bekerja sebagai tenaga kerja di Luar Negeri

66% tenaga kerja Indonesia di luar negeri bekerja di sektor informal. Nyaris semuanya adalah perempuan yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga.




TARING

Di akhir April 2010, Setelah sukses dengan film Bukan Malin Kundang dan Kain Kafan Perawan, RAPI FILMS mempersembahkan sebuah film Horor dengan judul TARING. Bekerjasama dengan Rizal Mantovani yang sebelumnya sukses dengan Kuntilanak dan Air Terjun Pengantin, ia dipercaya untuk menyutradarai film yang bernafaskan teror siluman di Hutan Werenggeni.

Kenapa Siluman? Siluman merupakan makhluk jadi-jadian, yang berwujud, tampak, dan memiliki keunikan tersendiri. Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki mitos silumannya masing-masing. Hutan yang masih perawan dipercaya sebagai sarang berbagai siluman. Konon jika mereka diganggu, maka mereka tidak akan ragu untuk menghabisi manusia. Disinilah muncul ide TARING. Oleh Alim Sudio, selaku penulis, meramu mitos-mitos siluman yang ada dan menjadikan sebagai sebuah alternatif tontonan horor yang mencekam, sekaligus menghibur tentunya.

Rizal adalah seorang sutradara yang ingin mengejar ‘kesempurnaan’ dalam film-filmnya, sekalipun ini horor, namun Rizal tidak pernah tanggung-tanggung dalam mempersiapkan karyanya. Salah satunya adalah pilihan Hutan yang menjadi set utama film ini. Rizal sengaja memilih hutan yang masih dianggap perawan dan dipercaya memiliki mitos yang kuat bagi masyarakat di sekelilingnya. Suasana misteri hutan itu sendiri akan menambah atmosfir suasana yang mencekam sehingga para pemain terdorong untuk melakoni perannya dengan maksimal.

Rizal sangat menuntut para pemainnya untuk totalitas terhadap karakter yang diperankan, FAHRANI (Radit dan Jani, Perjaka Terakhir), REBECCA REIJMAN, SHINTA BACHIR (Suster Keramas), DALLAS PRATAMA (Serigala Terakhir) dll. Mereka adalah para pemain yang telah disiapkan secara maksimal dan sangat berkomitmen, siap untuk menghadapi tantangan di medan shooting yang cukup berat.

Cuaca yang dingin, curah hujan yang tinggi, tanah yang berlumpur, tidur di tenda, minus makanan, merupakan hal yang harus dijalani para pemain selama shooting. Mau tidak mau, para pemain tidak boleh bersikap manja dan harus sepenuhnya profesional. Persiapan para pemain untuk menghadapi kondisi situasi seperti ini memerlukan waktu hampir 2 bulan.

Salah satu adegan yang paling menantang adalah adegan pemotretan dengan hanya menggunakan lingerie. Terbayang bagaimana dinginnya udara kala itu, namun Rizal menuntut agar tidak ada satu pun pemain yang terlihat menggigil di depan kamera. Mereka harus berakting sebagaimana layaknya para model yang menikmati pekerjaan mereka. Demikian juga ketika mereka semua harus terjun ke danau. Berenang di air sedingin es. Sementara para kru bebas menggigil di pinggir, para pemain harus berakting seakan danau itu adalah danau paling hangat yang ada di Sukabumi.

Lokasi yang dipenuhi lumpur juga menyisakan kenangan akan lintahnya yang luar biasa. Secara bergantian para pemain mendapat gigitan dari para lintah yang ganas.

Selain faktor alam yang menjadi tantangan utama dalam film Taring ini, ada juga tantangan teknis lain. Untuk menghadapi teror Siluman hutan Werenggeni tersebut, Fahrani harus melakukan berbagai action termasuk bermain dengan api, sementara Rebecca harus bergantung di pohon selama berjam-jam.




MENEBUS IMPIAN

Membawa semangat Kartini dan Impiannya, Dapur Film Production mempersembahkan film layar lebar persembahan Hanung Bramantyo. Film "Menebus Impian" mengangkat tema perjuangan wanita dalam mengangkat derajat hidupnya. Film ini berusaha menjadi pendorong semangat keberanian untuk memiliki sebuah Impian, sama seperti Kartini dulu berjuang dalam mewujudkan Impiannya akan kesejahteraan dan kesetaraan wanita Indonesia.




EMAK INGIN NAIK HAJI

Di mobil dalam perjalanan menuju Sanggar Ananda yang saya pimpin, untuk sekedar menengok latihan mereka - saya memeriksa tas souvenir yang didalamnya ada majalah Noor Edisi Desember 2007. Segera saya buka lembar demi lembar dan berhenti di halaman yang memuat cerpen Asma Nadia, judulnya “ Emak Ingin Naik Haji” (EINH). Iseng saya baca. Saya terharu dan tanpa sadar meneteskan air mata. Begitu saya selesai saya langsung tergerak mengadaptasi cerpen luar biasa ini menjadi Film…!




DEMI DEWI




GET MARRIED 2

Sukses GET MARRIED dengan antusias penonton yang tinggi di Lebaran 2007, lalu di tahun 2009, Starvision memproduksi sequel dengan judul GET MARRIED 2 yang ditulis oleh Cassandra Masardi. Merupakan kerjasama Starvision yang ke tujuh dengan Hanung Bramantyo Production. GET MARRIED 2 tetap disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan co.sutradara dipercayakan kepada Iqbal Rais yang sudah berpengalaman di tiga produksi Layar Lebar sebelumnya.



Back to the Top ^
Isi situs ini dapat dikutip sebagian atau seluruh bagian, hanya dengan mengirim
e-mail ke redaksi infosinema, dengan menjelaskan keperluan kutipan.
@copyright by www.infosinema.com 2003-2010.
All Rights Reserved. - Questions? Comments? Please contact our Customer